• ads

Abu Dzar dan Kelayakan Kepemimpinan

By admin1
In Tokoh
February 20, 2018
0 Comments
105 Views
abu dzar al-ghifari

sumber: www.google.com/image

     Oleh; Abdul Aziz Darji, Lc*


   Aluswah.com-Rasulullah SAW berpesan, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah, pada hari akhirat nanti ia menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali siapa yang mengambilnya dengan kelayakan dan menunaikan apa yang menjadi tuntutannya”. (H.R . Muslim).

        Dalam riwayat Muslim yang lain: “Dari Abu Dzar bahwa Rasul SAW berkata: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihat kamu seorang yang lemah, sesungguhnya aku suka untuk engkau apa yang aku suka untuk diriku, maka jangan engkau menjadi ketua yang terdiri dari dua orang dan janganlah memangku urusan harta anak yatim”.

         Dalam konteks sejarah, sahabat Rasul tidak memberikan jabatan sekalipun kepada Abu Dzar, seorang sahabat yang dikasihi baginda Rasul karena kriteria kelayakan tidak tampak pada Abu Dzar padahal, Abu Dzar adalah sahabat yang wara’ dan Zuhud. Jabatan dan politik lebih menghendaki yang lebih dari sekedar itu. Tidak semua pada masing-masing sahabat memiliki kriteria yang layak dalam memimpin mengendalikan urusan strategi dan politik seperti yang pernah diterapkan pada masa Khulafa ar-Rasyidin (Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib). Sungguh suatu sikap yang terpuji pada Abu Zar, sekalipun Nabi menyatakan kelemahan pada dirinya dalam hal kepemimpinan. Namun beliau tidak merasa tersinggung dan menerima apa yang dikatakan baginda Rasul SAW.

          Berpedoman pada Alquran dan Sunnah Rasul para ulama terdahulu seperti pendapat Ibnu Taimiyah (wafat 721 H) telah membahas persoalan kepemimpinan ummat Islam. Bahwa umat Islam harus berkomitmen memberikan kekuasaan terutama dalam bidang politik. Tidak semua orang mampu memikul beban tanggungjawab kepemimpinan dalam Islam. Apalagi memberikan tugas tersebut kepada seseorang yang tidak memiliki keahlian (skill) atau kelayakan pastinya hal demikian akan mengantarkan pada puncak kehancuran masyarakat dan ummat. Kerusakan sistem dalam kemasyarakatan adalah kerusakan individu secara keseluruhan. “Kehancuran hidup apabila amanah dikhianati”, demikian pesan Rasulullah.

          Dalam suatu majelis, ketika Rasulullah sedang berbicara dengan orang yang ramai maka datang seorang Arab Baduwi lalu bertanya: “Bila hari kiamat?”, Rasul SAW meneruskan pembicaraan. Ada yang berkata: “Baginda dengar (apa yang ditanya) tetapi baginda tidak suka apa yang ditanya, sementara yang lain berkata; “Bahkan baginda tidak mendengar”, Apabila telah selesai ucapannya, baginda bertanya: “mana orang yang bertanya”, jawab (orang Baduwi tersebut): “saya di sini ya Rasul”. Rasul berkata: “Apabila dihilangkan amanah maka tunggulah kiamat”. Tanya orang Baduwi lagi; “Bagaimana menghilangkan amanah itu?” Rasul SAW menjawab: “Apabila diserahkan urusan yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

     Seiring dengan firman Allah: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ 58).

          Sekiranya pemimpin yang amanah dipilih dan terpilih berkelayakan untuk memimpin maka sejahteralah rakyat (rakyat tidak lapar dan merasa aman tinggal di negerinya sendiri) jika berbanding terbalik maka hasilnya tidak diharapkan. Atas nama amanah maka seorang dituntut untuk cerdas untuk menghasilkan pilihan dan melantik orang yang tepat, meletakkannya pada jabatan yang tepat sesuai dengan skill yang dimiliki. Apabila tidak demikian, maka ia dianggap khianat.

            Secara umum ciri pemimpin yang tepat untuk dipilih itu adalah: Al-Quwwah dan Al-Amanah. Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah di dalam buku As-Siyasah Sah-Syar’iyyah fi Islah ar-Ra’iyyah yakni:

Al-Quwwah adalah kekuatan, kemampuan, kemahiran menjalankan tugas. Ciri-ciri Al-Quwwah atau kemampuan dalam bidang yang diberikan.misalkan: jika jabatan yang diberikan berkaitan dengan ekonomi, konsep Al-Quwwah merujuk kepada kemahirannya dalam mengendalikan ekonomi. Jika berhubungan dengan kehakiman maka Al-Quwwah merujuk kepada pengetahuan dalam persoalan hukum. Demikian juga bidang kemiliteran mampu menjawab persoalan kepiawaian dalam strategi perang semangat juang dan keberanian lekat dengan dirinya.

Al-Amanah dalam artian Kalimat ini merujuk kepada tiga hal utama: Takut hanya kepada Allah, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan murah hanya untuk mendapatkan kedudukan di dunia (mengumbar janji) dan tidak takut kepada manusia. Syeikh Ibnu Taaimiyyah berkata: ”Hendaklah dipastikan orang terbaik bagi setiap jabatan, karena sesungguhnya kepemimpinan itu mempunyai dua rukun yakni: Al-Quwwah dan Al-Amanah. (crew/ed)

*ahli Sirah Nabawiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *