• ads

Mencapai Kebajikan Hakiki

By admin1
In Artikel
October 30, 2017
0 Comments
50 Views

kebajikan haqiqiSahabat Rehat, Allah menyampaikan sebuah kalimat indah di dalam alquran sebagai berikut : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Kalau kita dalami maknanya, sangat menyentuh dan sebagai manusia biasa, yang jauh dari sempurna, belum tentu kita mampu mengamalkannya.

Bagaimana tidak, sifat kikir menjadi salah satu sifat dasar manusia. Karena kekikiran itulah, terkadang kita belum sampai pada tahap mampu menginfakkan apa-apa yang kita cintai dengan senang dan terbiasa. Kalau kita memiliki selembar uang 100.000 dan selembar uang 5.000, mana yang kita berikan sebagai sedekah, tentunya yang 5.000 karena kita masih mencintai uang kita 100.000. Apa yang terjadi jika kita melakukan yang sebaliknya, menyerahkan harta terbaik kita, selembar 100.000… pikiran kita akan dihantui kekhawatiran, kalau ada apa-apa bagaimana… sedangkan uang kita tinggal 5.000. Nah, celah untuk melupakan keberadaan Allah mulai muncul.

Ada sebuah kisah pada zaman salafus shalih, dimana ada seorang laki-laki yang keluar rumah dengan membawa kambingnya untuk dijual seharga 1 dirham dan uang hasil penjualannya akan digunakan untuk membeli tepung. Sesampai di jalan, laki-laki ini melihat dua orang yang berkelahi memperebutkan uang 1 dirham. Rasa kemanusiaannya pun muncul dan dia menyerahkan uangnya untuk dibagikan kepada keduanya. Sesampainya di rumah, ia menceritakan kejadian ini pada istrinya. Istrinya kemudian mengumpulkan apa saja yang masih tersisa di rumah untuk dijual namun, tak satu pun ada yang mau membelinya sampai akhirnya dia bertemu seorang laki-laki yang membawa ikan yang sudah busuk. Pembawa ikan tersebut  menukar ikannya dengan barang yang dibawa wanita tersebut.

Saat di rumah, sang istri segera membersihkan ikan untuk dimasak karena dia dan suaminya sudah sangat lapar. Dengan izin Allah, di dalam perut ikan terdapat mutiara, Kagetlah mereka berdua. Mutiara tersebut akhirnya dijual oleh laki-laki itu. Awalnya mutiara temuan di perut ikan itu dibeli dengan harga 40.000 dirham oleh pembeli pertama. Pembeli ini menyarankan kepada laki-laki ini untuk menemui seseorang yang akan membeli mutiaranya lebih tinggi dari harga yang ditawarkannya. Laki-laki itu pun menemui orang yang dimaksud. Orang ini, sebagai pembeli kedua, menyampaikan harga yang akan ditebus untuk mutiara tersebut 80.000 dirham dan dia menyarankan laki-laki itu untuk menemui orang yang akan memberikan harga lebih tinggi lagi jika sang laki-laki tidak puas dengan harga yang ditawarkan sampai akhirnya pada pembeli ketigalah mutiara tersebut dihargai paling tinggi, 120 dirham.

Ujian Allah masih berlangsung, sesampai di rumahnya, laki-laki yang telah membawa pulang 120.000 dirham ini didatangi seorang fakir yang meminta sedekah kepadanya. Rasa ibanya sebagai manusia yang murah hati pun kembali terbit dan diberikannya separuh dari hartanya yang baru saja diperolehnya kepada si fakir. 60.000 dirham pun diserahkan sebagai sedekah terbaiknya.

Orang fakir ini pun meninggalkan rumah laki-laki itu…namun, belum jauh dia berjalan, ia kembali dan menyerahkan uang yang dibawanya kepada laki-laki tersebut sambil berkata “ Saya bukanlah seorang yang fakir. Saya adalah malaikat utusan Tuhanmu untuk menemuimu. Engkau telah disiapkan oleh Tuhanmu balasan terbaik atas sedekahmu sebanyak 20 qirath atas sedirham yang kamu sedekahkan. Terimalah ini, senilai 1 qirath, sisanya akan kamu ambil kelak di akhirat.” Malaikat itupun berlalu sambil menyerahkan 6 kantong dirham kepada laki-laki tersebut.

Apa hikmah yang bisa diambil? Setiap harta yang kita keluarkan sebagai infak, maka ikhlaskanlah. Jangan pernah terlalu khawatir kekurangan harta setelahnya. Biarkan Allah yang bekerja mengurus keperluan duniawi kita. Perlahan-lahan, latih dan biasakan diri ini untuk mampu memberikan harta yang paling kita cintai di jalan Allah. Perniagaan terbaik adalah bersama Allah, karena Dia tidak pernah merugikan hambaNya, justru memberikan keuntungan berlipat ganda tanpa disangka-sangka.

Mari, semuanya belajar untuk mampu memberikan apa-apa yang dimiliki dan dicintai kepada orang lain sehingga kita akan sampai pada  kebajikan yang sempurna. Insyaallah. Aamiin.

*By : Hj. Juwita Kridha Wicaksini, S.S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *