• ads

Mengubah Jalan Hidup

By admin1
In Artikel
March 30, 2018
0 Comments
54 Views

yy“Aku benar-benar bingung, sudah sekitar 1 jam lebih aku berusaha menghafal. Tapi entah mengapa tak ada satu huruf pun yang bisa aku hafal”
“Fokuslah Din. Fokuslah”
“Tapi Fat, Aku belum berpengalaman untuk menghafal, dan aku rasa ini benar-benar sulit.”
“Sugesti saja otakmu, bahwa hafalan itu mudah”

Hening… kubiarkan percakapan ini Selesai. Apa boleh buat, Fatimah termasuk anak yang cepat menghafal. Dia juga sudah menuntaskan sekitar 8 juz. Jelas sudah ia menganggap ini semua mudah, karena ia terbiasa.
“Waktu setor sudah habis. Kalian boleh melanjutkan aktivitas. Dan untuk Adinda Putri, ba’da ashar silahkan setor double.”

“Tap—“belum selesai aku melanjutkan argumenku, ustadzah sudah menutup agenda ini.
“Ustadzah akhiri mari kita tutup dengan istighfar dan doa kafaratul majlis.

Perlajaran pertama dimulai. Seorang guru memasuki kelas, menyapa siswa-siwanya.
“Assalamualaikum warohmatullahhi wabrokatuh”
“Waalaikumussalam warohmatullahhi wabarokatuh”
“Shobahal Khair?”
“Shobahannur.”
“Ahlan Wa Sahlan?”
“Ahlan bikum.”
“Kaifa haluk kunna?”
“Alhamdulillah innana bikhair.”

“Baiklah anak-anak. Langsung saja kita mulai pelajaran bahasa Arab pada pagi hari ini. Oh ya, hari ini kita ada ulangan bahasa Arab kan?. Baiklah anak-anak, apakah kalian semua sudah siap?”
Terdengar sedikit riuh di dalam kelas. Nampak ada yang menjawab “Sudah” ada pula yang menjawab “Belum.” Dan para siswa menjawab secara bersamaan. Dan aku? Jelas termasuk golongan yang menjawab belum. Belum siap.
“Nampaknya ada yang sudah siap, dan ada juga yang menjawab belum. Tapi bukankah Ustadz sudah memberi tahu jadwal ulangan kita di pertemuan sebelumnya?”

Hening… tak ada yang menjawab basa-basi ustadz.
“Baik, langsung saja ustadz bagikan soal ulangan ini. Siap tidak siap kalian harus siap. Waktunya terbatas, kerjakan dengan teliti dan benar. Dan selalu utamakan untuk senantiasa jujur. Berdo’alah sebelum mengerjakan, Insya Allah dimudahkan.” Nasehat ustadz Amir. Dengan tangan yang tak berhenti membagikan soal.
“Waktunya 1 jam. Selamat mengerjakan.” Ucap ustadz Amir diakhir kalimatnya.

Satu jam berlalu. Satu per satu murid sadar bahwa waktu ulangan telah berakhir, segera mengumpulkan ulangan yang telah di selasaikannya. Nampak satu dua murid yang berkomat-kamit entah menghafal kosakata atau berdoa diberi nilai terbaik.

“Baik anak-anak silahkan dikumpulkan.” Langkah ustadz Amir menuju siswa yang belum mengumpulkan ulangan dan segera mengambil kertas ulangan tersebut. Nampak beberapa siswa berwajah pasrah menyerahkan kertas ulangannya. Dan termasuk aku.

“Karena bab selanjutnya adalah pidato, untuk pertemuan kedepan, silahkan membuat rangkian pidato dengan tema tentang pendidikan berbahasa arab dan silahkan kalian berpidato di depan kelas satu persatu.”
“apa pekan depan semua harus selesai?”. Celetuk Dita menanyakan tentang tugas pidato tersebut.
“Sangat diharap pekan depan, tugas sudah dikumpulkan dan siap untuk berpidato. Iya, nampaknya jam pelajaran Ustadz sudah berarkhir. Silahkan beristirahat. Mari kita tutup pelajaran ini dengan hamdalah dan doa kafaratul majelis. “ Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.”
“waalaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh.”

Siswa-siswa berhamburan keluar kelas, menuju ke kantin, ke lapangan, atau ke perpustakaan. Sepertinya tak ada yang berminat untuk tetap tinggal di kelas. Menyisakan aku yang sedang memikirkan banyak hal. Bagaimana dengan nilai ulanganku? Tugas pidatoku besok? Dan… hafalan yang harus ku setor double untuk ba’da ashar nanti?
Tiba-tiba…….

“Apa kau tak ingin pergi ke luar kelas Adin?” suara Fatimah memecahkan keheningan.
“Sedang badmood.” Jawabku datar
“Ada apa? Kau bisa cerita kepadaku Din?”
“Bagaimana dengan ini semua?” balik tanyaku
“Apanya?” jawab Fatimah, sepertinya ia tak kalah bingungnya denganku. Bedanya ia bingung karena jawabanku.
“Hafalan, pidato, dan nilai ulanganku tadi?. Aku tak pernah belajar bahasa Arab sekalipun, tak pernah menghafal Al-Qur’an. Dan pidato, aku sering berpidato, cukup mahir mungkin, tapi tidak dengan pidato bahasa Arab. Jadi sudah jelas, takdirku tidak untuk bahasa Arab, tidak juga untuk menghafal. Lalu kenapa orangtuaku memaksa untuk pindah ke lingkungan sekolah ini. Sampai sekarang, aku masih menyesal karena sekolah disini.”
“Takdir terbaikmu untuk sekolah disini Din, tak usah kau sesali. Bisa dibilang bahwa ini takdir indahmu.”
“Tapi, bidangku bukan disini, bukan dilingkungan yang berbasis bahasa Arab. Nilai ulanganku selalu buruk, hafalanku selalu numpuk, tugas-tugasku tak pernah tuntas.”
“Ini bukan masalah takdir Din,”

“Lalu apa lagi? Jelas-jelas bahwa ini adalah sebuah takdir. Takdir yang buruk.”
“Dengarkan aku Din, ini bukan masalah takdir. Melainkan sebuah kemampuan untuk menguubah jalan hidup. Percayalah bahwa kamu bisa. Berusahalah untuk senantiasa berprasangka baik. Husnudzon Din!”
Hening… perkataan Fatimah memang benar. Soal sekolah disini, mungkin saja tak kusadari bahwa ini adalah takdir terindah.

“Teruslah berusaha sekuat tenagamu Din. Yakinlah bahwa kamu bisa dan ini adalah yang terbaik. Aku berjanji akan membantumu dalam pemahaman bahasa arab, membantumu dalam hafalan al-quran. Aku akan membantumu sekuat tenagaku. Aku berusaha, dan kau juga harus berusaha. Kita sama-sama berusaha.”
Hatiku mencelos, kepalaku berputar untuk merangkai jawaban dari percakapan ini. Sia-sia! perkataan Fatimah lagi-lagi benar, dan aku tak bisa mengelak dan menolak. Tak bisa mengelak perkataannya, dan tidak juga untuk menolak kebaikannya.

#Cerpen
#Kiriman pembaca
oleh: Yulia Hidayatul Rohmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *