• ads

Menyiapkan Generasi Rabbani 2045

By admin1
In Tokoh
February 28, 2018
0 Comments
104 Views
gen

sumber: www.google.com/image

Oleh : Drs. Syaiful Ulum Arum, M.M*


    Aluswah.com-Dalam kitab Zaadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, karya Ibnul Jauzi (1/298): Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai berikut: Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Qatadah dan Atha’ mengatakan: Rabbaniyun adalah para fuqaha’, ulama, pemilik hikmah (ilmu). Seperti dikutip di muslim.org.id. Lantas apa makna yang sesuai dengan kaidah di Indonesia? Dalam KBBI, rabani/ra·ba·ni/ Ar a yang berkenaan dengan Tuhan; bersifat ketuhanan.

    Mengacu data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2016, lebih dari satu juta anak putus sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD) dan tak melanjutkan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Jika digabung antara yang tidak tamat SD-SMP, maka ada sekitar 4,3 juta anak yang tak mengenyam pendidikan dasar sembilan tahun.

   Akibatnya, sekitar 40 persen angkatan kerja Indonesia saat ini merupakan lulusan SD. Kondisi itu tentunya menghambat upaya Indonesia untuk bersaing di kancah global dan merengkuh puncak bonus demografi. Hal itu mestinya tak membuat kita pesimistis, tetapi justru terus menebar harapan dan cita-cita bersama.

   Dalam Forum Merdeka Barat kesembilan pada Jumat (8/9/2017), Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemerintah terus bekerja untuk mengurai berbagai permasalahan bangsa Indonesia. Menurut Bambang, peningkatan kualitas sumber daya manusia amat krusial untuk menunjang langkah Indonesia ke depannya, termasuk dalam menyambut bonus demografi. Sesuai di Kompas.com

Generasi Rabbani 2045

   Mendidik masyarakat menjadi generasi rabbani merupakan tanggung jawab kita semua.  Sebab manusia mempunyai tugas berdakwah dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Hanya tingkatannya dalam berdakwah saja yang berbeda.

    Demi mewujudkan generasi rabbani 20145-seutuhnya, agenda besar ini harus dimulai dari lingkungan belajar di keluarg dulu. Karena itu, Allah perintahkan agar kepala keluarga dengan serius memperhatikan kondisi keluarganya. Allah berfirman (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Allah gandengkan perintah ini dengan gelar iman, menunjukkan bahwa perintah tersebut merupakan tuntutan dan konsekwensi iman seseorang. Untuk mewujudkan tujuan ini, Rasulullah mengajarkan beberapa metode dalam mendidik keluarga:

  1. Ajari mereka untuk bertauhid

    Allah berfirman menceritakan tentang wasiat yang disampaikan Nabi Ya’qub ketika hendak meninggal dunia (yang artinya): Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan YME dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. al-Baqarah: 133)

  1. Ajari keluarga untuk melaksanakan salat

     Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka untuk dipaksa shalat, ketika mereka berusia 10 tahun.”(HR. Abu Daud)

  1. Memberikan sedikit ancaman agar mereka tidak bermaksiat

     Tujuan memberikan ancaman semacam ini adalah agar anak tidak berani melawan orang tua atau istri melawan suami. Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda: Gantunglah cemeti di tempat yang bisa dilihat penghuni rumah. Karena ini akan mendidik mereka. (HR. Thabrani)

  1. Pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dengan anak perempuan

    Ini akan menjadi pendidikan bagi anak untuk memahami bahwa antara laki-laki dan wanita tidak boleh campur baur. Pemisahan ini dimulai ketika mereka menginjak usia 10 tahu. Rasulullah bersabda: Pisahkan tempat tidur diantara mereka (HR. Abu Daud)

  1. Memperbanyak doa untuk kebaikan keluarga

     Banyak sekali do’a yang Allah ajarkan dalam Alquran, yang isinya memohon kebaikan bagi keluarga. Demikian pula Rasulullah  banyak mengajarkan hal yang sama dalam hadisnya.

    Pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

    Pemerintah sendiri melalui dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian dicanangkan bahwa Indonesia pada tahun 2025 akan menjadi negara maju, mandiri, makmur, dan adil dengan pendapatan per kapita sekitar 15000 dollar AS serta diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. Kemudian pada tahun 2045 mendatang Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan per kapita sebesar USD47000. GNFI.id

     Selain lima saya sebutkan di atas, perlu generasi kedepan mempunyai skill yang kompeten di bidangnya, life skill, desain grafis, menekuni industry kreatif, menulis artikel, dan berwirausaha.

*Ketua MKKS SMA NU se-Jawa Timur dan Sekjen MKKS SMA Swasta se-Jatim serta Kepala SMA YTPAI Raudlatul Muta’allimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *