• ads

Menyiapkan Peradaban Melalui Rumah dan Sekolah

By admin1
In Artikel
February 8, 2018
0 Comments
36 Views

Oleh: Ahmad Muadzin, S.Pd.I., Lc*

Sejak 15 abad lalu Rasulullah SAW menjanjikan kebangkitan peradaban islam, kapan dan dari mana kebangkitan itu akan terwujud tergantung kita semaksimal apa dalam mempersiapkannya, rumah dan sekolah adalah sarana untuk menyiapkan kebangkitan peradaban itu.

Mempersiapkan rumah yang kondusif untuk perkembangan anak, rumah harus memiliki perangkat yang lengkap, dan memiliki peran yang lebih besar dari sekolah. Orangtua harus mulai sadar bahwa pasrah kepada sekolah saja tidak akan bisa cukup untuk menempa anaknya, zaman Nabi sekolah paling lengkap itu ya di rumah. Di rumah anak-anak bisa belajar ilmu tertentu dari bapaknya,ibunya,kakeknya,kepada pamanya, dan bahkan pada kakaknya sendiri.
Sekolah memang punya peran yang sangat penting juga dalam islam, sejarah telah membuktikan dulu pesantren bisa menggerakkan negara, jalan tidaknya negara dulu tergantung apa kata pesantren.

Saat ini yang terjadi dengan anak-anak kita di rumah masalah yang mungkin terjadi di sekolah juga masalah yang ada di rumah, ketemu ayah ibu yang kecapekan kerja marah-marah terus, datang ke Sekolah lupa kerjaan tugas juga kena konsekwensi, itu masalah besar bagi anak-anak.

Bagaimanapun pertanggungjawaban orangtua terhadap baik tidaknya anaknya kepada Allah itu pasti,para guru di sekolah juga akan diminta pertanggungjawaban masing-masing ada porsinya, dan tetap orangtua yang lebih besar porsinya.
Problem dan tantangan hidup anak kita sekarang sangat komplek, ada narkoba dan LGBT kita semua takut akan hal itu, jadi tugas untuk menyelamatkan anak-anak dari penyakit-penyakit mengerikan itu tanggungjawab ayah dan ibu yang utama.
Alqur’an sendiri mejelaskan banyak hal tentang pembangunan peradaban dari rumah:
 Rumah harus jadi tempat menginap/bermalam yang aman dan nyaman.
 Rumah harus bisa menenangkan penghuninya setelah beraktifitas penuh diluar, masuk rumah penghuni merasa tenang dan anteng.
 Betapa pentingnya memiliki rumah yang menjadi “maskan” tempat tinggal “sakinah” yang tenang dan aman
Dulu nabi Ibrahim as. ketika di Makkah bersama istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail as bekal yang dibawa cuma sebotol air dan beberapa buah kurma saja dan hal pertama yang beliau minta sama Allah adalah tempat tinggal yang aman, tenang dan nyaman, baru soal akidah dan rizki.

Nyaman itu tidak diukur dengan materi, nyaman itu adanya hanya dihati tidak bisa dibeli, Asiah istri fir’aun dulu tinggal di istana megah dengan pengamanan super ketat tapi bliau tidak merasa aman dan nyaman, makanya bliau banyak berdoa agar dibangunkan satu rumah di surga.

Di Alquran Allah kisahkan tentang dua model rumah yang bertolak belakang, yang pertama rumah laba-laba,Allah menyebutkan bahwa rumah laba-laba adalah rumah paling rapuh, fakta ilmiahnya menyatakan serat rumah laba-laba lebih kuat dan lebih lentur dari pada sutra, maka binatang lain yang terperangkap hampir dipastikan tidak bisa keluar dari jebakan, lalu kenapa Allah menyebutnya rumah yang paling rapuh padahal buktinya kuat? Karena rumah itu fungsinya hanya untuk jebakan bukan tempat tinggal, isinya hanya saling mencebak dan saling menjerat.

Hasil penetilian juga menemukan bahwa rumah laba-laba itu terbangun dari hasil serat dikeluarkan oleh laba-laba betina dengan kata lain yang membuat rumah adalah sang betina bukan yang jantan, padahal disisi lain islam menegaskan bahwa “Para wanita itu sebaik penjaga rumah suami” artinya suami yang buat rumah dan istri yang bertanggungjawab atas rumah suaminya bukan sebaliknya, pada laba-laba itu telah hilang kepemimpinan dari seorang laki-laki, akhirnya dia merasa sombong dan angkuh karena semua yang mengatur adalah betinanya bukan sebaliknya, betina akan segera membenuh jantannya stelah dia dibuahi dan sang jantang akan cepat-cepat lari setelah membuahi karena takut dibunuh, jadi tugas laba-laba jantan hanya membuahi betina.

Begitu rendahnya rumah bukan karena fisiknya tapi karena sistem yang tidak berjalan, lemah karena anggota keluarganya, laki-laki tidak bertanggungjawab dan yang perempuan anggkuh serta anak-anak saling berkelahi.
Perumpamaan rumah yang kedua adalah rumah lebah “Ketika Rabbmu memberikan ilham/wahyu kepada lebah untuk membuat sarangnya.”

Ini adalah contoh rumah yang dibangun atas dasar bimbingan Allah, madu yang kita konsumsi itu adalah sisa persediaan makananan lebah, sisanya saja bermanfaat luar biasa, sampai-sampai Allah sebut “Syifaa’un linnas…” obat bagi manusia, luar biasa bukan…

Begitulah Allah memberi perumpamaan kepada kita agar kita berfikir untuk berusaha mengambil yang terbaik dari perumpamaan itu kemudian mengaplikasikannya pada kehidupan kita agar diri,keluarga terutama anak-anak kita nanti bisa merasakan manfaat dari apa yang kita lakuakan.

Mempersiapkan anak-anak untuk menjadi pemimipin kelak adalah tugas bersama, keluarga dan sekolah, jika seorang ayah atau ibu pasrah begitu saja ke sekolah tanpa ikut campur dengan proses yang ada maka usaha sekolah juga tidak akan pernah sukses walaupun program sudah menumpuk dan tertata, masa sekolah adalah masa anak-anak mencari figur untuk diikuti maka sudah semestinya kita sebagai orang tua banyak memberikan keteladanan yang terbaik saat anak-anak bersama dengan kita..

Ayah…ibu.. selamat meluangkan waktu menemani anak-anak berproses menjadi pemimipin masa depan, mudah-mudahan seluruh usaha dan doa-doa kita dijawab dengan indah oleh Allah pada waktunya…amin…
*Direktur LPIT Al Uswah Tuban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *