• ads

Mukjizat Ayat Alquran

By admin1
In Artikel
March 21, 2018
0 Comments
91 Views
quranic-abrogation-02

sumber: www.google.com/image

oleh: Zahara Shovynnatus Salsabella*


Aluswah.com-Truk itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana dari anyaman rotan. Dari truk itu, turun seorang anak berusia 10 tahun, ayahnya, serta sopir truk tersebut. Furqon, itu namanya.
Anak lelaki berusia 10 tahun. Ia tinggal dengan ayahnya, pak Dasrul. Ibunya telah meninggal 2 tahun yang silam. Seorang calon hafiz qur’an. Furqon sudah hafal 29 juz. Hafalannya sesuai tajwid. Suara Furqon pun sangat merdu dan indah.

Furqon menghafal semua itu secara otodidak. Furqon menghafalnya sendiri. Karena rumah Furqon berada di tengah kota dan tidak ada ustaz di daerah itu. Bagaiamana Furqon akan tahu benar atau tidak bacaannya? Furqon menggunakan aplikasi penghafal Alquran yang keren dan canggih.

Kantor ayah Furqon mengalami kebangkrutan. Akibat tak bisa membayar utang-utang perusahaan, rumah, motor, mobil, dan semua harta milik ayah Furqon disita. Terpaksa, mereka harus tinggal di rumah sederhana peninggalan kakek Furqon di Kampung Lebat Pohon.

“Astagfirullahal’adzim. Nggak mau ikut aku. Sama saja itu dengan judi. Haram!” Seru Furqon. Kemudian, ia sibuk mengais-ngais sampah.

“Huh! Dasar, sok-sok pintar,” maki anak itu. Furqon tak menghiraukannya.

Setelah itu, mereka beruda melanjutkan pekerjaan. Mengais-ngais sampah dan memasukkannya ke dalam karung. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua.

Ketika suasana menunjukkan hampir ashar, Furqon pulang ke rumah dan mandi. Pak Dasrul tidak ada.

“Ayah, nggak ada. Padahal, aku mau pamit,” gumam Furqon. Ia berlari meninggalkan rumah dan melangkahkan kaki pelan-pelan dan hati-hati melewati jembatan tali.

Selepas salat ashar…

“Gimana, Furqon? An-Naba sudah hafal?” Tanya Ustad Ali.

“Alhamdulillah, sudah, Ustad. Furqon sudah hafal sampai surah ‘Abasa,” jawab Furqon. Ia tersenyum manis.

“Subhannallah Furqon. Hafalanmu cepat sekali. Allah benar-benar meridhaimu,” balas Ustad Furqon. Furqon menari nafas dalam-dalam, ia membaca basmalah dan memulai hafalannya.

Furqon pulang ke rumah dengan perasaan senang. Hafalannya benar-benar bagus, begitu kata Ustad Ali.

“Furqon!” Gertak pak Dasrul di depan rumah.

“Assalamu’alaikum, yah. Ada apa?”

“Nggak usah pakai salam-salam segala. Mana uangmu?” pak Dasrul terlihat seperti orang stress.

“Ini pak,” Furqon menyodorkan hasil ia memulung.

“Kok cuma segini? Harusnya, bisa lebih banyak dari segini. Kamu sampai jam berapa sih?” Tanya pak Dasrul.

“Sampai habis salat ashar.”

“Kenapa enggak sampai jam segini aja? Kamu bisa dapat lebih banyak,” protes pak Dasrul.

“Maaf yah. Tadi, Furqon shalat ashar. Terus, setor hafalan Qur’an.”

“Qon, yang gitu-gitu sudahlah. Yang penting kita banyak uang dulu. Fokus dulu nyari uang. Baru kamu mau hafalan kah, apa kah. Apa untungnya sih?” pak Dasrul masuk ke dalam rumah. Furqon tertunduk.

Sepulang sekolah, Furqon mendapati pak Dasrul yang terbaring lemah. Biasanya, beliau jam segini kerja. Pak Dasrul tampak kesakitan.

“Ayah, ayah kenapa?” Tanya Furqon panik. Seketika itu, pak Dasrul terbatuk-batuk. Batuk yang nyaring dan seperti bukan batuk biasa. Di telapak tangan pak Dasrul, terdapat cairan merah kental.

“Astagfirullah, ayah!” Furqon semakin panik.

Furqon berlari menuju mushhola. Ia berlari di jembatan tali. Didapatinya, Ustaz Ali yang tengah berdzikir.

“Ustaz, tolong ayah saya ustaz,” pinta Furqon dengan wajah memelas.

“Ayahmu kenapa?” Ustaz Furqon panik melihat ekspresi wajah Furqon.

Furqon menceritakan semuanya. Ustaz Ali langsung meminta tolong kepada tetangganya yang punya truk untuk membawa pak Dasrul ke rumah sakit. Dengan susah payah, Furqon memapah ayahnya melewati jembatan tali dan membantu naik ke dalam truk.

Truk melaju menuju kota. Setelah itu, pak Dasrul langsung dibawa ke rumah sakit umum. Semuanya bingung, karena tidak ada yang mampu membiayai.

“Tenang, soal biaya, saya Insyaallah bisa bantu,” ujar Ustaz Ali. Setelah diperiksa, pak Dasrul mengalami kanker ginjal yang sedang dalam masa penjalaran kanker dan harus dicegah secepatnya dengan cara operasi.

Untuk operasi itu, membutuhkan biaya puluhan juta. Furqon hanya bisa menangis. Ia hanya bisa melantunkan ayat Alquran di depan ayahnya yang tertidur. Airmata pun turut menetes.

Pak dokter memeriksa lagi tubuh pak Dasrul.

“Kondisi pak Dasrul semakin parah. Ini tak bisa dibiarkan. Harus secepatnya,” jelas dokter.

Sebenarnya, pak Dasrul harus dipindah ke ruang ICU agar mendapat perawatan lebih intensif. Tetapi, sayangnya, biaya tidak memadai.

Furqon melanunkan ayat-ayat suci. Ia, berharap, bisa mengurangi rasa sakit ayahnya.

Siangnya, pak Dasrul tidak sadarkan diri.

“Ayah, ayah bangun ayah,” Furqon mengguncang-guncang tubuh pak Dasrul. Airmata Furqon mengalir.

Pukul 15.15 menit, Ustad Ali datang. Beliau dan Furqon menunaikan shalat ashar bersama-sama.

Setelah itu, di depan tempat tidur Pak Dasrul, Furqon mengulangg hafalannya dari surat Al-Fatihah sampai An-Nas.

“Subhanallah … Furqon, hafalanmu benar semua. Tidak ada yang salah,” puji ustaz Ali seraya mengelus rambut Furqon. Furqon masih membaca surat Al-Fath.

Mulut Furqon pegal sekali. Karena, menghafal ayat Alquran nonstop. Furqon meminum air putih 1 gelas.

Lantunan ayat suci Alquran dari Furqon indah sekali. Suara merdunya, makhraj huruf, tajwid, dan tilawahnya. Subhanallah.

“Furqon, suaramu sangat mirip dengan salah satu imam besar Masjidil Haram,” puji ustad Ali. Furqon tengah meminum air putih karena mulutnya pegal dan haus. Ia baru hafalan sampai surah Yasin.

“Benar, Ustaz?” Sahut Furqon.

“Bohong kan dosa. Ngapain Ustad bohong? Semoga, kamu menjadi penerus imam besar Masjidil Haram itu,” doa ustad Ali.

“Aamiin.”

Furqon kemudian melanjutkan hafalannya lagi.

“Shadaqallahul’aziim,” Furqon mengakhiri hafalannya. Butuh waktu 3 jam untuk hafalan dari awal sampai akhir.

Mata Furqon mengeluarkan airmata dan mengenai kelopak mata pak Dasrul. Ustad Ali meneteskan airmata mendengar hafalan Furqon.

Dan pada saat itu juga, pak Dasrul sadar. Beliau membuka matanya perlahan-lahan.

“Furqon!” Kata pak Dasrul pelan. Furqon mengambilkan air putih untuk diminum ayahnya.

Dokter membuka pintu kamar. Tanpa bertanya-tanya lagi, beliau langsung memeriksa keadaan pak Dasrul dengan sebuah alat khusus.

“Pak, tidak ada rasa sakit lagi?” Tanya pak dokter. Pak Dasrul mengggeleng.

“Sama sekali?” Pak Dokter seakan tidak percaya.

“Tidak ada sedikitpun pak dokter,” jawab Pak Dasrul.

“Kalau begitu, kami menyatakan bahwa Pak Dasrul telah sembuh. Karena dari hasil pemeriksaan alat ini, kanker Pak Dasrul tidak ada lagi,” ujar pak dokter seraya menunjukkan alatnya yang canggih. Furqon, ustaz Ali, dan pak Dasrul terlonjak kaget. Furqon langsung sujud syukur.

“Alhamdulillah…”

Furqon langsung memeluk erat ayahnya. Ayah dan anak itu mengeluarkan airmata karena haru.

Ustaz Ali memeluk Furqon, “Alhamdulillah ya, Furqon.”

“Ini semua karena mukjizat Allah, pak. Apa yang kalian lakukan sehingga membuat pak Dasrul sembuh dari kanker?”

“Mengulang hafalan Alquran dari awal sampai akhir,” jawab Furon. Pak dokter menggelengkan kepala.

“Subhanallah, Allah Maha Baik. Mukjizatnya akan diberikan kepada siapapun yang mau berdoa dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Terlebih, kepada anak istimewa dan hebat seperti kamu Furqon,” puji pak dokter. Furqon menunduk malu.

Pak Dasrul tersenyum mendengar percakapan mereka.

“Mukjizat ayat Alquran,” batin Furqon.

Kabar kesembuhan Pak Dasrul karena ayat Alquran menjadi perbincangan hangat di Kampung Lebat Pohon. Para warga mulai tertarik. Sedikit-sedikit, mulai ada yang belajar mengaji.

Mushola yang dulunya sepi, sekarang mulai ramai. Warga yang dulunya sibuk dengan urusan duniawi mulai tekun beribadah.

“Kamu hebat, Furqon. Anak ayah yang istimewa,” puji pak Dasrul.

“Furqon nggak istimewa, yah. Furqon biasa saja,” jawab Furqon merendah seraya menunduk.

“Itu semua karena mukjizat ayat Alquran.”

#Cerpen ini juga tayang di majalah Aluswah edisi 55.

*Kelas 11B SMAIT Al Uswah Tuban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *