• ads

Patriotisme itu Syukur dan Cinta Tanah Air

By admin1
In Artikel
October 30, 2017
0 Comments
73 Views

cinta tanah airIndonesia adalah negeri yang kaya raya akan sumber daya alam dan keragaman budayanya. Indonesia juga termasuk negeri yang subur dan indah alamnya. Karena kesuburannya juga Indonesia disebut negara Agraris. Bagaimana dengan keindahan alamnya? anda bisa searching di internet. Anda akan menemukan keindahan alam yang terbingkai dalam foto-foto yang luar biasa. Begitu subur dan indahnya alam Indonesia, hingga ada yang mengatakan bahwa Indonesia laksana “kepingan surga”. Begitulah tanah air Indonesia.

Kepingan surga itu bernama Indonesia. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnya, mulai dari rempah-rempah hingga emas dan permata. Sumber daya alam yang menghampar di atas bumi hingga yang tertanam dalam perut bumi. Baik yang di daratan maupun di lautan. Semuanya dapat dinikmati dan dimanfaatkan.

Ternyata “kepingan surga” yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini memancing negara lain untuk ikut menikmatinya. Mereka tidak sekedar ingin menikmatinya tapi juga menguasainya. Jadilah Indonesia saat itu menjadi negara yang direbutkan. (bisa jadi hingga saat ini) Tercatat dalam sejarah, Indonesia yang dahulu bernama nusantara pernah didatangi oleh negara lain. Negara yang pernah datang dan menjajah Indonesia antara lain Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jepang. Hampir semua negara yang pernah datang ke Indonesia memiliki tujuan yang sama yaitu mengambil kekayaan, melebarkan kekuasaan dan kejayaan, serta menyebarkan agama. Tujuan itu dikenal dengan istilah Gold, Glory, dan Gospel.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jika kita ditakdirkan hidup di tanah air Indonesia maka sepatutnya kita bersyukur. Ungkapan rasa syukur itu bisa kita tunjukkan dengan banyak hal. Salah satunya adalah memiliki kecintaan terhadap tanah air Indonesia. Rasa cinta terhadap Indonesia dapat dilihat dari ekpresi cintanya yaitu berupa sikap berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Itulah yang disebut dengan jiwa Patriotisme.

Jiwa patriotisme inilah yang seharusnya terus dipupuk dan dipertahankan. Karena terusirnya para penjajah itu juga karena adanya jiwa patriot yang menggelora di dada para pemuda-pemuda saat itu. Mereka rela berkorban apapun, termasuk dengan harta benda dan jiwa raga. Mereka begitu mencintai bangsa dan negara, melebihi cintanya kepada diri sendiri. Mereka mengesampingkan kepentingan dan keuntungan pribadi atau golongan. Mereka bersatu padu mempertahankan tanah air Indonesia.

Seharusnya jiwa patriot inilah yang harus dimiliki oleh setiap kita. Jadi apa pun kita, profesi apa pun, selama kita masih menghirup udara segar di bumi Indonesia maka sepatutnya kita memiliki jiwa patriotisme. Jika kita menjadi abdi negara, menjadi guru, kontraktor, polisi, TNI, PNS, pegawai BUMN, dan lain-lain, maka seharusnya jiwa patriotisme harus ada dalam diri kita. Karena bisa jadi jiwa patriotisme ini merupakan ungkapan syukur kita.  Bersyukur pada Allah SWT atas anugerah “kepingan surga bernama Indonesia”.

Kecintaan kita terhadap tanah air sebagai perwujudan jiwa patriotisme tidak hanya ungkapan syukur saja tetapi hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW  pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibn Hibban, Rasulullah bersabda, “Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban). Sehingga cinta tanah air merupakan itba’ Rasulullah SAW.

Setelah pengusiran tersebut, Nabi lantas hijrah ke kota Yatsrib yang di kemudian hari bernama Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Seperti yang terungkap dalam doa beliau yang terekam dalam Shahih Bukhari. “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR. Bukhari)

Mengakhiri tulisan ini, ada sebuah potongan puisi karya Husni Djamaludin, yang patut kita renungkan bersama. Indonesia tanah airku, Indonesia dimanakah tanahku, Indonesia tanah airku, Indonesia dimanakah airku. //Indonesia tanah airku, Tanah bukan tanah-ku, Indonesia tanah airku, Air bukan airku. //Indonesia masihkah engkau tanah airku?, Tuhan…, Jangan cabut Indonesiaku, Dari dalam hatiku.” Pertanyaannya kemudian, apakah suatu saat, kita akan terusir dari negeri sendiri? Wallahu a’lam.

*

By: Masruhin Bagus, MA, Kepala SMAIT Al Uswah Tuban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *