• ads

RESOLUSI KONFLIK

By admin1
In Artikel
December 17, 2015
0 Comments
583 Views
saling mengerti

saling mengerti

Aluswahtuban.com – Yang dimaksud dalam hal ini adalah tentang rangkaian dalam berbahasa dalam menyelesaikan konflik atau permasalahan. Sebagai orang tua sudah semestinya kita mengajari anak – anak agar mampu berkomunkasi dengan santun dalam menyelesaikan suatu konflik atau maslah dengan bahasa.

Ada empat tahapan penyelesaian konflik yang ada pada anak – anak kita, diantaranya Passive, Physical Aggresion, Verbal Anggression, dan Language.

Tahapan pertama passive. Pada tahap ini, anak hampir tidak ada kontak sosal dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak.

Tahapan kedua physical aggresion ( serangan fisik ). Pada tahapan ini terkadang anak kita akan melakukan serangan fisik berupa, berteriak, mengigit, menendang, memukul,atau melempar benda yang dijumpainya. Itu semua cara menyelesakan masalahnya.

Anak kita belum memiliki perbendaharaan kata – kata sehingga menggunakan serangan fisik. Hal ini akan terjadi pada anak kita diusia pra taman kanak-kanak (TK) atau dalam rentang usai antara 2 hingga 3 tahun. Pada usa ini, anak kita jika menginginkan sesuatu biasanya akan langsung merampas dari temenya, atau ketika kesal dengan temanya akan mudah untuk memukul.

Tahapan ketiga verbal aggression ( serangan bahasa ). Pada tahapan ini anak kita akan sedikit berkurang serangan fisiknya, namun akan mulai memahami dengan kekuatan kata- kata. Meraka akan melakukan serangan dengan kata- kata jika kesal. Seperti, papa jahat, jangan bermain denganku, dan hal  ini akan terjadi pada anak kita diusia 4 hingga 5 tahun.

Tahapan keempat language ( bahasa ).Pada tahapan ini sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa. Kalimat yang positif tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaan bahasa seperti ini merupakan cermin kematangan dan pengendalian emosi yang baik.

Seperti contoh, ada dua anak yang sedang bermain mebuat bangunan balok. Anak yang satunya menyenggol hasil karya temannya. Anak yang bangunannya roboh berkata, “aku tidak suka kamu merobohkan bangunanku”.

Kemudian anak yang meyenggol bangunannya berkata “ Maaf aku tidak sengaja, tadi akau hanya ingin mengambil buku di rak, boleh aku bantu membenahinya”. Tahapan yang keempat ni adalah tahapan yang ideal. namun pada kenyataannya banyak diantara kita sebagai orang tua yang masih mneyelesaikan masalah dengan diam seperti bayi yang pasif.

Tak hanya itu, ada juga yang menyelesaikan masalah seperti layaknya anak di usia 2 tahun, yaitu dengan serangan fisik, dan banyak juga yang menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan bahasa layaknya anak usia 3 tahun. Kekerasan bahasa dan fisik hal ini secara teoritis hanya diperbolehkan pada anak usia 3- 6 tahun.

Pada tahap yang manakah cara komunikasi kita dengan anak – anak kita dalam meyelesaikan masalah ?. Kita bisa melakukan evaluasi diri dengan melihat kenyataan yang ada dan sikap kita dalam menyelesaikan masalah selama ini, apakah poin satu, atau seterusnya.

Harapnya, semoga kita bisa menggunakan bahasa dan prilaku yang santun dalam menyelesaikan masalah pada siapaun disekitar kita, terutama dengan kelurga dan anak- anak kita. Teringat sebuah hadits Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]. Wallahu A’lam bish-Shawab. (MULYADI/SDIT AL USWAH TUBAN)

Sumber tambahan : ( Ida S. Widayanti ,Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia , Jakarta : Arga Tilanta, 2013.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *