• ads

Semakin Sayang Kepadamu, Prins!

By admin1
In Artikel
March 28, 2018
0 Comments
112 Views

k 1

Pekan ini, adalah pekan Ulangan Tengah Semester. Jadi, aku pulang lebih awal. Yang biasanya pulang pukul 15.30 WIB, sekarang pukul 11.00 WIB sudah pulang. 11.04 WIB…

Tinggal sepatu sebelah kiri lagi. Nah, sekarang semuanya sudah terpasang. Setelah bersalaman dengan guru-guru di lapangan sekolah, aku langsung berjalan menuju luar sekolah. Lalu, aku pun mulai menyusuri gang ke arah rumahku. Aku terus menyusuri gang sambil menghafalkan surah Al-Ma’arij. Tiba-tiba, aku mendengar suara, “Ngeoooong!”. Suaranya terdengar sangat memelas. “Ngeooong!”. Nah! Terdengar lagi suaranya.

Aku cepat-cepat memasukkan mushafku ke saku baju, lalu berlari mendekati semak, tempat asal suara.

“Astaghfirrullahaladzim!” seruku pelan. Kucing! Ya seekor kucing! Ia terjerat ranting-ranting semak dan tak bisa lepas kecuali dibantu. Kucing itu manis, suaranya enak didengar jika mengeong. Warna rambutnya putih dengan sedikit corak warna kuning kecoklatan. Hanya saja, banyak luka di bagian depan hidung dan badannya. Mungkin tergores ranting-ranting. Atau, berkelahi dengan kucing-kucing liar lainnya. Ia juga kelihatan kotor dan kurus sekali.
“Ngeoong!”. Aku pun membantunya keluar dari semak itu. Setelah berhasil keluar, kucing itu langsung meloncat ke arahku. Ia terus menempel pada kakiku, minta dielus.
Aku pun mengelusnya. Kelihatannya jinak sekali.

Tak jauh dari sini, ada tukang jualan bakso. Aku pun bertanya kepadanya, “Mas ini kucingnya siapa ya? Kok jinak sekali?”

“Oh itu! Itu kucing liar mbak. Biasanya sering datang kesini. Mungkin lapar, jadi saya kasih bakso. Ya dia-nya mau saja. Tapi itu kucing liar kok mbak. Bukan kucing siapa-siapa.” jawab tukang bakso itu. Aku pun berhenti bertanya. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk membawanya pulang ke rumah.

Kata ummi, dulu ummi juga punya kucing. Pasti ummi mau membantuku mengurusnya. Pikirku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung menggendong kucing itu. Tak peduli seragamku menjadi kotor.

Tok! Tok! Tok! “Assalamualaikum…” salamku. Pintu rumah pun terbuka. “Waalaikumussalam…” oh, ummi ternyata. “Loh… itu kucingnya siapa?” tambah beliau lalu mengambil kucing itu dari gendonganku.

“Kucing liar, mi. Tapi, jinak banget!” jawabku seraya melepas sepatu. Lalu, aku pun masuk ke rumah. Menaruh tas, mengganti baju, dan cuci kaki. Setelah itu, aku pun mencari-cari ummi. “Ummi! Ummi dimana?”
“Disini! Di tempat cuci baju!”. Aku pun segera ke belakang rumah. Setelah sampai disana aku kaget. Karena kucing itu sudah selesai dimandikan oleh ummi.

“Nurut banget! Ummi gosok punggungnya, dia diam saja. Ini pegang dulu! Ummi mau membuang air bekas mandinya,” kata Ummi seraya memberikan kucing yang terselubung handuk itu. Aku pun menggendongnya lalu membawanya ke ruang tengah. Disitu ada adikku, Daffa, sedang menonton Upin Ipin.

“Yee kucing!” serunya, lalu mendekati kucing yang lagi kukeringkan. “Kasih nama Apin ya mbak! Nama kucingnya Upin Ipin itu loo…”. Oh ya! Nama! Dari tadi aku tidak kepikiran akan hal itu.

“Masa’ sama namanya! Jangan dong! Cari nama yang langka gitu lo…”. Bibir adikku langsung maju satu cm. Aku tertawa. “Emmm… gimana kalau Prins?” tanyaku. Tiba-tiba kucing itu langsung mengeong. Aku tersenyum.
“Diambil dari kata apa tuh?” tiba-tiba ummi ikut bicara.

“Prince!” jawabku. Adikku langsung berubah kembali. Tertawa riang. Ummi pun tersenyum ceria. Dan Prins ikut mengeong sambil mengibas-ngibaskan ekornya, tanda bahwa ia ikut gembira.
***
Allahu’Akbar… Allahu’Akbar!
Tanda sholat zuhur pun tiba. Saatnya semua orang islam memenuhi panggilan-Nya. Aku pun berhenti membaca buku IPA ku. Kulihat Prins yang tidur di sudut tempat tidurku yang menghadap ke jendela. Sudah satu minggu kami merawatnya. Aku pun mengelusnya. Dia langsung bangun. Menatapku dengan pandangan teduh. “Ngeooong!” suaranya sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Aku pun tersenyum simpul, lalu menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.

Setelah selesai berwudhu, aku pun pergi ke ruang sholat. Disana sudah ada ummi, dan… ummi mengelus Prins yang berdiri di sebelah kanan sajadahku.

“Dia ingin ikut shalat,” kata ummi. “Dalam islam, kucing tidak najis kok. Bahkan, hewan kesayangan nabi ialah kucing. Sudah, ayo kita shalat.”

Aku semakin sayang padanya. Pada saat aku belajar, ia selalu ada disampingku. Bahkan saat tidur, ia juga tidur denganku. Ia biasa tidur di kakiku. Aku juga sering mengajaknya bermain. Yang paling aku kagumi, ia bisa berdiri dengan menggunakan dua kaki saja! Wow! Dan juga, saat kami sekeluarga jalan-jalan di kota naik mobil, Prins sudah duluan naik ke mobil kami.

Kini, Prins sudah lumayan gendut. Bahkan, tetangga-tetanggaku pernah bertanya, “kucingnya hamil ya?”. Ya aku kagetlah. Prins kan laki-laki.
“Prins, mulai hari ini kamu harus diet!” kataku saat aku bermain dengannya.
“Ngeoong!” jawabnya seakan-akan tahu apa yang aku katakan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
***

Pernah sekali itu, Prins kejepit pintu. Kakinya langsung berdarah. Aku langsung histeris. Akhirnya, siang itu ummi membawa Prins ke dokter hewan. Aku juga ikut.

Kata dokter, lukanya lumayan dalam. Butuh dijahit. Aku beri tahu ya, bukan beri tahu maksudnya! Prins butuh dibius tiga kali baru bisa tertidur.

Setelah selesai dijahit, Prins langsung dibawa kembali ke rumah. Di rumah ia jalan-jalan mengelilingi ruang tengah terus! Kalau dipanggil, “Prins!” pasti tidak menoleh, tidak seperti biasanya. Aku khawatir.

“Nggak pa-pa. Soalnya aslinya dia masih belum sadar.” Kata ummi. Aku pun tenang kembali.

Aku semakin sayang kepada Prins. Dan semoga saja Prins juga sayang padaku. Aku kan tidak tahu perasaannya. Aku senang pernah menolongmu Prins. Dan kini, bagiku kau kucing yang istimewa. Tidak! Maksudku sangat istimewa.
“Prins!”
“Ngeooong!”

I LOVE YOU PRINS!!!

#Cerpen karya siswa
*Noor’ainaya Salsabila R. VI C SDIT Al-Uswah Tuban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *