• ads

Tiada Kebaikan yang Tidak Terbalaskan

By admin1
In Artikel
May 3, 2017
0 Comments
119 Views

kebaikan“ Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melakukan “ (Al Hadist )
Kebenaran tidak pernah terikat waktu. Setiap saat, setiap masa kita berbuat baik merupakan suatu keharusan. Selagi hayat masih dikandung badan, jiwa ini kan terus berupaya menjadi yang terbaik.
Seperti halnya hadits di atas, bahwasanya siapapun yang menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala. Balasan yang telah Allah berikan kepadanya. Kebaikan yang sungguh indah. Kebaikan setitik nila misalnya, sebesar gunung ibaratnya, semua tak lepas dari tanggungjawab kita terhadap illahi.
Barang siapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. Sebab, Allah telah menjaga kita dari hal yang bisa mencelakan kita. Ini tak lepas dari kebaikan yang pernah kita lakukan.
Telah banyak contoh teladan yang disampaikan di majelis taklim, sekolah maupun di khutbah Jumat. Tokoh-tokoh islam seperti Imam Al Ghazali. Disaat menulis kitab Ihya’ Ulumuddin, tanpa sengaja terdapat seekor lalat yang jatuh di tintanya.
Tokoh Islam terkemuka yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’I ini menguasai disiplin filsafat dan menaruh prioritas pada olah rohani sebagai seorang sufi yang taat kepada Allah Taala. Kitab tasawuf dasar, Bidayatul Hidayah, yang dikarangnya pun mengungkapkan kealiman beliau dalam urusan otak dan hati.
Imam Al Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.
Namun, Allah menolak itu semua. Dia menerima satu kebaikan yang penah ia lakukan saat membiarkan seekor lalat minum tinta. Saat Ia lagi sibuk menulis karya tulis dalam sebuah kitab. Ia merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.
“Masuklah bersama hamba-Ku ke surga,” kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu. Jika Allah berkehendak, tiada daya upaya yang menghalanginya.
Secara hemat biasa, memang hal yang tidak begitu berarti. Namun, amal yang kita kira biasa justru bisa membawa kita meraih surga-Nya.
Sebagai contoh lagi, ini pengalaman pribadi saya belum lama ini. Ketika saya dalam perjalanan dari Babat menuju ke Tuban. Saya melihat dari kejauhan terdapat seorang pengendara motor berhenti. Tanpa pikir panjang saya pun berhenti.
“Kenapa mas motornya?” Tanyaku. “Ini Mas bensinnya habis.” Jawabnya singkat. Mari saya dorong Mas, sampai SPBU Compreng. Seketika saya langsung mendorong motornya sampai lokasi tujuan. Setelah sampai, saya berlau meneruskan perjalanan saya. Tanpa saya tahu nama dan alamat mas yang saya tolong tadi. Dan saya telah melupakan kebaikan waktu itu. Berlalu begitu cepat.
Nah, beberapa hari yang lalu. Saya melakukan perjalanan yang sama di jalan yang sama pula. Menuju tempat mengajar saya di kota Tuban. Tidak disangka rantai motor saya lepas dan terjebit ger belakang dan piringan dekat roda. Yang mengakibatkan motor tidak bisa berjalan. Harus didorong memakai motor lain.
Tak lama berselang ketika saya berhenti di pinggir jalan untuk mencoba memperbaikinya. Ada siswa SMA berhenti tepat di depanku. Bak malaikat penolong yang datangnya tiba-tiba. “Mas motonya kenapa?” Tanyanya. “Ini Mas, rantai lepas dan terjepit, tidak bisa jalan normal.” Jawabku singkat. “Mari Mas saya dorong dari belakang.” Ajaknya. Saya pun menyetujuinya.
Motor saya didorong sampai bengkel di depan SPBU Compreng Tuban. Dan, uniknya kejadian ini mirip dengan yang pernah saya alami sesuai di atas. Tempatnya sama. Kejadiannya hampir sama juga. Prosesnya pun demikian. Ia berlalu begitu saja, tanpa saya tahu siapa namanya dan asal sekolahnya. Inilah peran kuasa Allah. Kejadian yang saya alami, saya yakin bahwa tak ada kebaikan yang tak terbalaskan. Tak ada pula kejelekan yang tak terbalaskan.
Jalan yang diajarkan syari’at Islam adalah jalan yang paling tepat dalam pengerjaan ibadah kepada Allah. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan hendaklah. istikamah dalam mengerjakan perintah-perintah-NYA. dan menjauhi larangan-NYA. (Syaikh Abdul Qadir Jailani ) (Ustadz Fahry)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *